127 hours

Film yang baru gua tonton seminggu yang lalu, menceritakan tentang seorang pendaki gunung yang bernama Aron Ralston yang jatuh dan terperangkap di Canyonland National Parks, Utah. Jujur aja, pas denger (karena dibacain) plot-nya, gua ga ngerasa tertarik sama film ini. Gua pikir ini pasti film garing, apalagi pas awalnya cuma tentang dia naik sepeda pergi ke gunung di daerah Utah. Ah, pastilah salah satu film yang ngebosenin banget.

Ralston yang lari dari satu tebing ke tebing lainnya, sempat ketemu sama Kristi dan Megan; 2 orang pendaki lainnya yang lagi nyasar. Ralston berhasil ngebuktiin mereka kalo dirinya adalah seorang petualang yang handal dan diapun nunjukkin rute-rute menarik yang selama itu susah ditemui mereka. Dia bawa mereka jalan menuju lembah yang sempit, bahkan terjun ke kolam yang letaknya tersembunyi dimana ketiganya berhasil merekam kegiatan mereka lewat video camera yang dibawa Ralston. Singkatnya, merekapun berpisah dan Ralston melanjutkan pendakiannya seorang diri menuju Blue John Canyon dan melewati jalan lintas yang amat sempit dimana tebingnya tertutup bebatuan. Malang tak dapat dicegah, pas dia mau turun, salah satu tebingnya goyah. Ralstonpun jatuh ke bawah jurang dan tangan kanannya terjepit diantara tembok dan bebatuan yang bikin dia terjebak. Dia teriak minta tolong tapi ga ada orang-orang di sekitarnya, sampai akhirnya dia sadar kalo dia seorang diri dan diapun mulai merekam keadaan dirinya lewat video camera yang dia bawa. Dia juga mulai keluarin pisau lipetnya buat mengikis sedikit demi sedikit batu yang menimpa tangannya. Tapi semuanya itu sia-sia dan diapun coba buat potong tanganya tapi pisaunya sendiri kurang tajem buat motong kulitnya. Dia akhirnya tusuk tangannya sendiri tapi juga akhirnya sadar kalo pisaunya ga bisa memotong tulang tangannya. Persediaan minuman yang dia bawa juga mulai habis sampe akhirnya dia harus minum dari air seninya sendiri. Video-video rekamannya juga semakin ga karuan isinya karena dia udah mulai berhalusinasi, ngebayangin kehidupannya dengan keluarganya di masa lalu, dengan mantan pacanya, dan juga Kristi dan Megan. Sampai di satu titik dimana dia sadar kalo apapun yang dia lakukan cuma bakalan bikin dia meninggal sendirian di tebing itu.

Akhirnya, setelah 5 hari terjebak disana, dia ngumpulin nyalinya buat matahin tangannya dan motong urat-uratnya dengan pisau lipet yang dia bawa. Katanya pas bagian ini, ada yang sampe pingsan di bioskop. Gua sendiri sih ga berani liatnya, asli ga tega. Diapun akhirnya berhasil meloloskan diri dari tebing yang kedalamannya 65-foot itu dan ga lupa menyetop pendarahan tangannya pake alat yang biasa dipake untuk mendaki gunung (kurang tau Indonya apa, tapi namanya carabiner dan gambarnya seperti ini). Pas dah sampe di atas, Ralston dah kecapean dan berlumuran darah, tapi untung aja dia ketemu sama keluarga yang lagi main-main kesana, dan keluarga inipun akhirnya ngebantu dia cari pertolongan dengan memanggil helikopter yang bawa dia ke rumah sakit.

Kalo gua inget lagi jalan ceritanya, jujur ini film termasuk ‘blah’. Cuma segitu doank? Intinya, dia jalan ke gunung terus terjebak, tapi entah kenapa film ini mengena banget di hati, sampe berhari-hari keinget terus yang akhirnya gua tulis deh sekarang. Kalo dulu nonton Endless Love aka Autumn in My Heart (film Korea) pas lagi nge-trend-nya, gua juga jadi kepikirian terus tapi perasaannya ga enak. Yah, film mellow kan tuh, ditambah sad ending jadi bikin hati ikutan berkabut juga. Tapi film yang ini beda, gua jadi ngebayangin kehidupan dia sekarang dimana dia dah berkeluarga dan punya anak. Ralston sendiri masih suka pergi mendaki ke gunung sampe sekarang, dan katanya batu yang menghimpit tangannya itu perlu diangkat oleh 12 orang waktu mereka mau ambil tangannya yang dipotong. Kebayang ga tuh beratnya….makanya, gimana gua ga takjub, hehhehe.

Advertisements

10 thoughts on “127 hours

  1. gua sudah nonton, dan gua ga tertarik sama nih film lin…
    mungkin karena gua ga suka nonton film x yaaaa… (secara gua nonton cuma buat temenin david).

    bagian dia tusuk2 tangannya sampai patah2in tangannya gua ga lihat semua… bener2 miris dan ga tega.

    tapi menurut gua nih film agak lebay… abiz seharusnya orang sudah patah tangan putus urat dengan pisau yang tidak steril, dengan kurang makan / minum, kok pas keluar dari tebing itu terlihat segar bugar menurut gua.

    tapi katanya itu kisah nyata ya?

    • Iya Des, gua juga cukup nonton sekali aje. Itupun sambil maenin laptop, jadi cuma denger doank. Abisan plotnya lama terus ceritanya cuma gitu doank? Tapi iyah, ini kisah nyata, makanya pas ending gua sempet kepikiran sama itu orang. Kalo cari di google, bisa liat fotonya dia yang sekarang tuh…

  2. Gw pengen liat James Franco nya,hueheheee…n karna kisah nyata itu kali ye. Tp ga tau nih bisa tayang di bioskop ga,kalo ga,ya liat bajakannya,hhaaahahaa…di amrik ada juga ya,ternyata…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s